Senin, 31 Mei 2010

Selamatkan Bumi Pertiwi !

(Khutbah Jum'at di Salah Satu Masjid di Bandar Lampung; Menyambut Harkitnas)
Budi Wibowo

Tulisan ini saya susun pada tanggal 20 Mei 2010 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Dahulu ketika saya masih kecil. Setiap tanggal 20 Mei terlihat di setiap rumah memasang bendera satu tiang, sekolah-sekolah mengadakan upacara, radio-radio mendengungkan lagu-lagu kebangsaan mengingatkan kembali semangat heroic (kepahlawan) para pahlawan pendiri Republik ini. Tetapi sekarang simbol-simbol semacam ini sudah tidak terlihat dan terdengar lagi . Ini menunjukkan bahwa semangat kebangsaan pada generasi sekarang ini telah pudar.  Fakta semacam ini menunjukkan bahwa para pemimpin negeri ini kurang serius memikirkan tentang pentingnya pembentukkan kepribadian bangsa (building character ) Padahal orang bijak berkata: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”
*** 
Telah banyak manusia yang terlena dalam kehidupan dunia ini, mereka lupa bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan berikutnya. Sebagai umat Islam kita wajib mengimani pernyataan ini karena tertulis dalam Al Qur’an: 
الذين يؤمنون بالغيب


“ orang-orang yang mempercayai (beriman) kepada yang gho’ib” (Al Baqoroh :2 : 3)
Yang gho’ib (yang tidak terlihat) itu di antaranya adalah kehidupan akhirat, yakni kehidupan setelah kehidupn di dunia ini.
 

Kita termasuk orang yang beruntung karena setiap hari Jum’at masih memiliki kesadaran untuk menunaikan sholat Jum’at yang didahului dengan pembacaan qotbah yang berisi peringatan-peringatan agar kita tidak melakukan pelanggaran garis-garis yang telah ditentukan oleh agama kita.
 

Mungkin bagi mereka yang senang berdzikir dalam artian ingat, sebut dan mempelajari firman Allah baik secara chouliah maupun kauniah keheran-heranan dan bertanya mengapa di negeri ini banyak terjadi distorsi padahal negeri ini adalah negeri muslim yang terbesar di dunia ini. Terlihat terutama pasca reformasi +- sejak sepuluh tahun yang lalu.. Sebenarnya jawabannya sederhana yakni karena banyak rakyatnya terutama para pemimpinnya yang mendustai nilai-nilai agama yang kita anut.   Padahal negeri ini didirikan olah para pendiri bangsa ini dengan pengorbanan yang tidak ternilai harganya baik moril maupun materiil. Negeri ini dibangun dengan menumpahkan darah para pejuang, dengan mengorbankan jiwa dan raga, bukan sekedar pemberian atau hadiah yang hanya merendahkan martabat bangsa . Bukan !!.
 

Musti kita ingat bahwa waktu itu tidak sedikit pahlawan gugur mebela tanah air, banyak isteri kehilangan suami, banyak ibu kehilangan anak, banyak anak kehilangan bapak, tangis pilu sedih meronai bangsa ini. Setiap tetesan darah menjadi saksi, setiap tetesan airmata menjadi saksi bahwa kita tidak mau lagi menjadi bangsa yang teraniaya , ditindas dan dirampas hak-haknya.  Pekik Allahu Akbar, Allahu Akbar mengumandang di seantero Nusantara dari Sabang sampai Mearuke, mebakar semangat. Banyak pemuda Aceh, Makasar, Ambon dan dari luar Jawa lainnya yang gugur di medan pertempuran di Surabaya dan bahkan demi tegakknya RI banyak pejuang yang tenggelam di Laut Aru Ambon.
 

Semboyan mereka hanya dua kata “Merdeka atau Mati”. Demikian dogma atau harga mati yang merasuk dalam setiap sel dalam tubuh bangsa ini tanpa membedakan ras, budaya dan agama, waktu itu.
 

Setelah Allah SWT memberikan kemerdekaan pada bangsa ini, para pendiri bangsa ini dengan hati-hati meletakkan dasar negara ini dengan tujuan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, yang sebenarnya diambil dari nilai-nilai Agama Islam yang kita anut.
 

1. Islam menebarkan kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan demi membina kelestarian dan kedamaian peri kehidupan di alam ini seperti telah termaktub dalam pembukaan UUD 45 dan sebagaimana Allah berfirman

وَماَ أرْسَلناك إلا رحمة للعالمين

“Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk (menaburkan) kasih sayang bagi seluruh alam.” (Al Ambiya : 21; 107).
 

2. Para pendiri negeri ini meletakkan asas monotheisme bukan atheisme maupun multitheisme. Artinya bahwa negara mengembangkan dakwah pemahaman satu tuhan yakni Tuhan Yang Maha Esa, bukan paham atheisme yang pernah hendak berkembang di negeri ini yang telah berhasil kita tumpas atau multitheisme yang menganut paham tuhan lebih dari satu.
Asas monotheisme ini sebagaimana termaktub dalam sila pertama dari Panca Sila, selaras dengan firman Allah SWT;

قل هو الله أحد
”Katakanlah (hai Muhammad) : ”Tuhan itu satu” (Al Ikhlas :112 :1)
***
Setiap bangsa memiliki sejarah yang berbeda dalam perkembangannya, perkembangan itu megikuti ukuran demensi ruang dan waktu. Bangsa ini tidak sama dengan Negara Arab meskipun kita sama-sama menganut agama Islam, dari segi aqidah atau keyakinan adalah sama, namun dalam segi pengembangan humanis kita temukan banyak perbedaan bahkan terbentuknya negara Arab sekarang dengan sejarah berdirinya RI tidak sama. Daerah Timur tengah yang negerinya panas terdiri dari padang pasir membentuk perilaku yang keras bahkan sebelum Muhammad SAW mendirikan negara Madinah hampir tidak pernah henti-hentinya terjadi peperangan antar suku atau kabilah (Pulungan), sampai sekarang perbedaan perbedaan itu sering menimbulkan ketegangan. Pertanyaannya apakah budaya timur tengah yang demikian ini patut kita kembangkan di negeri ini ?
 

Inilah sebenarnya yang harus kita waspadai bersama. Ada pihak-pihak yang hendak mengimpor budaya tersebut dengan menggunakan ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an. Padahal banyak ayat-ayat dan hadis Nabi SAW yang lain yang lebih sesuai dengan kondisi yang ada di negeri kita ini. Nabi SAW sendiri mencontohkan bahwa ketika beliau mendirikan Negara Madinah negeri tersebut berdasarkan ”Piagam Madinah” yang terdiri 47 pasal (Pulungan), bukan menyebutkan sebagai negara Islam meskipun dalam peri kehidupan yang dikembangkan adalah nilai-nilai keislaman yang dibawa Nabi SAW.
 

Maka menjadi aneh jika ada pihak-pihak yang ngotot (bersikeras) hendak mengganti dasar negara ini dengan dasar Negara Islam, pertanyaannya bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berada di Indonesia Timur, tentu mereka juga akan merasa tidak bersalah jika ingin mengembangkan menurut ideologi mereka. Dengan pikiran sehat seharusnya yang ngotot (bersikeras) merubah dasar negara ini adalah mereka yang berideologi multitheisme.
 

Kita tidak bisa membayangkan bumi pertiwi ini menangis tercabik-cabik jika masing-masing komponen bangsa ini saling berkeras untuk meninggalkan dasar negara yang telah dipikirkan masak-masak oleh para founding father /pendahulu kita., bila terjadi demikian, menjadi sia-sia pengorbanan para pahlawan pendiri bangsa ini.  Memang negeri ini sekarang sedang dilanda krisis kepercayaan dan mulai memudarnya seamangat kebangsaan, namun tidak serta merta apa yang telah dipikirkan oleh founding father tersebut salah dan harus diganti.
***
Melihat kondisi yang terjadi sekarang ini budaya dusta yang telah mengakar atau telah terjadi secara sistemik merupkan kebutuhan mendesak yang harus kita hancurkan bahkan harus kita cabut dari bumi pertiwi ini. Inilah pekerjaan rumah yang harus segera kita laksanakan. Bagaimana caranya? Karena yang kita hadapi adalah saudara kita sendiri yang mayoritas muslim maka bila kita ibaratkan bangsa ini adalah badan maka bila yang sakit tangan tidak perlu memotong tangan apalagi jika yang sakit kepala tidak harus memotong kepala ironis. Artinya bagaimana berjuang mengobati bangsa ini dengan menghindarkan cara-cara kekerasan (radikalisasi), tentu harus berpedoman pada nilai-nilai kebangsaan dan nilai-nilai agama yang kita anut.
Setiap agama di samping keyakinan pasti ada sisi humanisnya. Pada ruang inilah setiap komponen bangsa ini dapat bertemu untuk memikirkan bagaimana menyelamatkan negeri ini dari rong-rongan syetan yang menjelma pada diri sebagian anak bangsa ini, sebagai muslim kita harus dapat mengembangkan agama kita dari sisi humanisnya (hablum minannas) dengan tanpa mengorbankan keyakinan (Hasyim Musadi). Ada beberapa rambu dalam agama kita yang perlu kita cermati ;
 

1. Agama Mengajarkan Larangan Membunuh Sesama Muslim.
 

a. Firman Allah dalam QS An Nisa :4 :93
وَمَنْ َيْقَتلُ مُؤمِنًا ُمَتَعِمدًا فَجَزَاُؤهُ َجَهَّنمَ خَاِلدًا فِيهَا وَغَضَبَ اللهُ عَلَيهِ وَلَعَنَهُ وَأعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.“ (An Nisa :4:93)
 

b. Hadist Nabi SAW
لَزَوَالُ الدُّنْيا أَهْوَنَُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍِ مُسْلِمٍ
Sungguh lenyapnya dunia itu bagi Allah lebih ringan dari dibunuhnya seorang muslim (HR An-Nasai:3998)
 

2. Agama Melarang Membunuh Makhluk Allah tanpa Seizin-Nya.
َولاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَمَ اللهُ إلاَّ بِالحَقِ
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.“ (Al- Isra :33)
Ayat ini mengharamkan membunuh makhluk secara umum, kecuali ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, misal : karena perang atau memang yang bersangkutan bertugas sebagai eksekutor terhadap orang yang divonis hukuman mati oleh pengadilan. Bahkan Rasul melarang membunuh kafir Mu’ahad , yaitu orang kafir yang menjadi perwakilan di negara Muslim dan orang asing yang masuk negara muslim dengan menggunakan visa, termasuk dalam hitungan kafir Mua’had adalah kafir dzimi ( yang hidup damai di negeri muslim). Sebagaimana Nabi bersabda;

مَْن قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ وَ إنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أرْبَعِيْنَ عَاماً
“Barang siapa membunuh (kafir) mu’ahad dia tidak akan mendapat baunya syurga, padahal baunya bisa di dapat (tercium) dari jarak perjalanan 40 tahun “ (HR Al Bukhori:3166).

3. Agama Melarang Membunuh Orang Munafik yang Hidup Bersama Kita
 

Peristiwa memilukan pernah terjadi pada Nabi SAW, bahwa seorang tokoh munafik yang bernama Abdullah bin Ubay menyebarkan fitnah terhadap keluarga Nabi SAW. Mendengar kondisi seperti ini anak Abdullah bin Ubay sendiri memohon kepada Nabi SAW untuk membunuh ayahnya , beliau melarang, apa kata Rasulullah;

“Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya selama dia masih tinggal bersama kita.”
 

Alasan pelarangan Nabi SAW ini diungkapkan kepada Umar r.a;
كَيْفَ يَاعُمَرَ إذاَ تَحَدَّثَ النَّاسُ أنَّ مُحَمَّداً يَقْتُلُ أصْحَابَهُ ؟
”Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya (sendiri)?
Demikian rambu-rambu yang disampaikan oleh Allah SWT dan Nabi-Nya SWT

***
Jihad ialah perjuangan sungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah demi mencapai keridhaanNya, baik dalam bentuk perjuangan phisik maupun perjuangan mental spiritual. Belum disebut jihad sebenarnya jika tidak diniatkan karena Allah SWT dan dimasudkan untuk menegakkan kalimatullah, mengangkat bendera kebenaran dan menghalau kebatilan dengan segala daya upaya untuk mendapat ridho Allah. (Syabikh).
Salah satu bentuk jihad adalah memerangi kemunafikan. Pada kondisi sekarang ini yang harus kita perangi adalah beribu-ribu munafik yang berada di sekitar kita khusunya dan negeri kita umumnya, karena. mereka itulah sebenarnya penyebab terjadinya krisis kepercayaan dan merosotnya kepribadian bangsa saat ini. Namun Rasul melarang menggunakan cara kekerasan (radikal) memerangi mereka karena cara-cara seperti ini justru akan melemahkan persatuan khususnya sesama mukmin yang hanya akan membuat tepuk tangan kaum kafirin. Jangan-jangan timbulnya gerakan-gerakan radikalisme ini justru sebagai konspirasi kaum kafir untuk menjatuhkan umat Islam atau bahkan untuk mengobrak-abrik NKRI. Tidak salah kiranya apabila kita waspada terhadap gerakan demikian.


Untuk menghindari krisis yang melanda negeri ini, saya mengajak jamaah sekalian:
1. Pilih pemimpin yang benar-benar bersih.
2. Ajari anak-anak kita nilai-nilai kebangsaan dengan memasukkan nilai-nilai agama kepada mereka.

3. Setiap hadirin sekalian harus mampu memberi keteladanan tentang kebenaran dan manjauhkan dari sifat kemunafikan.
طَلَبُ الحَلاَلِ جِهَادٌ
“Mencari yang halal itu jihad. (HR Abu Nu’aim)
Makanlah dari rezeki yang halal, berikanlah keluarga anak isteri rezeki yang halal.
4. Bagi orang tua yang memiliki anak remaja, awasi mereka jangan sampai termakan agitasi yang mengatasnamakan agama, untuk melakukan tindakan radikal yang bertujuan mengganti dasar NKRI.
Demikian uraian yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi diri saya dan jamaah sekalian. Amin.

Daftat Pustaka:
- Al-Qur’an Karim.
- NU on Line. 2010. Hasyim Luruskan Konsep Pluralisme. www.nu.or.id
- Ramadhan Al-Buthy, M,S. 1977. Fiqhus Sirah: Dirasat Manhajiah ‘Ilmiyah li Siratil-
Musthafa ‘alaihish-Shalatu was-Salam. (Terjamah). Robbani Press. Jakarta. Hal.
       300-301.
- Sabiq, S. 1987. Fiqhhussunnah. Terjamah. Jilid 11. PT Alma’arif. Bandung
        Indonesia. Hal.83.
- UUD 1945. Bahan Penataran 1996/1997. Hal 1.
- Pulungan, J, Suyuthi.  1994.  Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan

        AlQur'an.  Raja Wali Pers. Jakarta.
- Zubaidi,M.  2008.  Al Islamu wal Irhaabiyah. Ta'awun Publiser. Bogor. hal 3-6.

____________________________________
Materi khotbah Jum’at 21 Mei 2010;
Masjid Baitul Hidayah; Tjk. Barat, Bandar Lampung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar