Rabu, 09 Juni 2010

Pidato Politik Abu Bakar Ash Shidiq R.A

(Catatan Khutbah Menjelang Pesta Demokrasi April 2009)
Budi Wibowo

الحمد لله نستعنه و نستغفره ونعذ بالله من شرور انفسنا
من يهدالله فلا مضلّ له ومن يضلل فلا هادئ له

اَشْهَدُ اَنْ لاَ الَهَ الاَّ اللهُ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى محمّد عَبْدِكَ وَ رَسُولِكَ وَعَلَى أَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ: أَمَّابَعْدُ
فَيَا اَيُّهَ الْحَضِرُوْنَ : اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


قَلَ اللهُ تَعَلئَ فِئ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ : اَعُذُ بِا اللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بسم الله الرّمن الرّحمي

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

صَدَّقَ الله العَظِيمَ وَ صَدَّقَ رَسُوْلُ اللهِ الْكَرِمَ
Sidang jum’at yang berbahagia,
Mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah s wt yang telah melimpahkan taufik rahmat dan hidayahNya kepada kita sehingga pada siang hari ini kita dapat melangkahkan kaki menuju Masjid ini dalam rangka memnunaikan kewajiban sholat jum’at berjamaah. Salam dan sholawat senantiasa tidak lupa selalu kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW

Sebagai kotib saya berwasiat kepada diri saya dan mengajak kepada jama’ah sekalian mari kita selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.

Judul kutbah siang hari ini adalah

Pidato Politik Abu Bakar Shidik R.A

Sidang jum’at yang berbahagia,
Lima hari lagi kita akan merayakan pesta demokrasi di negeri ini. Telah banyak kita lihat dan kita dengar janji janji politik dari para caleg untuk memikat masyarakat agar memilih mereka sebagai pemimpin atau wakil dari rakyat yang berada di daerahnya. Sebagai warga negara yang baik tentu kita patuh terhadap ketentuan Negara kita. Seperti yang telah diperintahkan Allah swt dalam Al Qur’an (QS An NIsa :59)


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


“Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu, Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
(QS An NIsa :59)

Para ulama sependapat bahwa ketaatan terhadap Allah dan Rasulnya adalah bersifat mutlak, sedangkan terhadap ulil amri bersifat relative.

***
Sidang jum’at yang berbahagia,
Allah menciptakan manusia di bumi ini adalah sebagai kholifah (pemelihara), untuk melaksanakan kekolifahan di muka bumi ini maka Ia memerintahkan manusia untuk memilih pemimpinnya sebagai, termaktub dalam QS An Nisa:58

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”
. (An Nisa:58)

Kemudian dalam suatu hadis disebutkan bahwa Rasulullah s a w, bersabda:

إذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أحَدَهُم

“Jika ada tiga orang bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat/memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin”.


Demikian pegangan seorang muslim dalam hal membina kehidupan berbangsa dan bernegara.

***
Sidang jum’at yang berbahagia,
Telah banyak kita lihat dan kita dengar baik melalui media masa maupun mengikuti secara langsung kampanye para calon pemimpin-pemimpin kita. Pertanyaannya benarkah demikian setelah mereka nanti duduk di kursi legislatif? Hanya Allah yang tahu. Pangkal dari semua kiprah mereka itu bergantung dari niat mereka. Apakah niat mereka karena Allah dan Rasulnya atau hanya mencari kesenangan dunia belaka.

Pernah pada suatu hari Abu Dhar  r.a  mengajukan permohonan kepada Rasul SAW.,sbb:
Dari Abu Dhar r.a, berkata: “Saya berkata , wahai Rasul mengapa tidak engkau pekerjakan aku untuk diangkat menjadi pejabat?” Dia berkata “lalu beliau (Rasul saw) memukul dengan tangannya pada pundakku, kemudian beliau bersabda:”Wahai Abu Dhar, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan itu merupakan amanat, dan pada hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan. Ingatlah, barang siapa mengambilnya maka harus mencarinya dan menunaikan amanat: (HR Muslim, dan Ahmad bin hambal)

Sidang jum’at berbahagia,
Pernah suatu saat ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah SAW ia bertanya kepada Rasulullah “kemana ia harus bertanya jika rasul telah tiada” Rasul menjawab bertanyalah kepada “Abu Bakar”, maksudnya adalah Abu Bakar Sidik r.a.

Ternyata, setelah Rasul meninggal para sahabat dan kaum muslim waktu itu sepakat mengangkat Abu Bakar r.a menjadi pemimpin (kholifah), berikut petikan pidato politiknya ketika ia baru ditetapkan sebagai kholifah:

“Wahai saudara2 . Saya telah dipilih menjadi pemimpin, padahal saya bukanlah orang terbaik di antara kalian. Kalau saya berbuat baik (benar), maka dukunglah dan bantulah saya. Kalau saya berbuat salah, maka luruskanlah saya. Kebenaran (kejujuran) adalah amanat (yag harus dilaksanakan ) dan kedustaan adalah pengkhianatan (yang harus dihindari). Orang lemah di antara kalian saya pandang sebagai orang kuat dan akan saya berikan haknya(yang belum di dapatnya) dan orang kuat di antara kalian saya pandang sebagai orang lemah dan akan saya ambil “hak” dari mereka (untuk diserahkan kepada yang sebenarnya berhak), Insya Allah. Jangan seorangpun di antara kita meninggalkan jihad (perjuangan) karena tidak ada kelompok yang meninggalkan jihad kecuali mereka akan tertimpa kehinaan dari Allah. Taatilah saya, selama saya taat kepada Allah dan Rasulnya. Kalau saya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat kepada saya. Demikianlah, bergegaslah melakukan sholat semoga Allah senantiasa merahmati kalian”.
Hadist Abu Bakar Sidik r.a: (Al kamil fii taarih li ibn Al Atsir juz 2 hal :664)

***
Sidang jum’at yang berbahagia,
Kita tahu bahwa Abu Bakar mendapat gelar AshShidiq yang berarti “orang benar/jujur”. Tentu apa yang keluar dari lesan beliau banyak mengandung hikmah. Mari kita gali hikmah apa yang terkandung dari pidato beliau itu; bahwa seorang pemimpin paling tidak memiliki criteria sbb;

 

1. Tidak Memiliki Sifat Sombong.
 

Teladan ini dapat kita petik dari pernyataan Abu Bakar yang mengatakan:
قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ

“Saya telah dipilih menjadi pemimpin, padahal saya bukanlah orang terbaik di antara kalian”.


Rasul bersabda;

الكِبْرُ بَطَرُالحَقِّ و غَمَطُ النَاسِ
“Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia" (HR. Muslim).

Sombong bisa menghilangkan keutamaan dan menghasilkan beberapa kerendahaan. Mengapa, karena pemilik kesombongan tidak mau menerima nasihat orang lain atau menerima pelajaran. Maka boleh dikata bahwa kesombongan itu menunjukkan ketololan bagi pemiliknya.
Tidak akan abadi kekuasaan yang disertai kesombongan.

 

2. Jujur 

Teladan ini dapat kita petik dari pernyataan Abu Bakar yang mengatakan:

الصِّدْقُ أمَانَةُ وَالْكِذْبُ خِيَانَةٌ

“Kebenaran (kejujuran) adalah amanat (yang harus dilaksanakan ) dan kedustaan adalah pengkhianatan (yang harus dihindari).”

Allah sangat membenci dengan angggota legislatif atau pemimpin yang tidak jujur atau tidak mengemban amanat seperti yang terungkap dalam QS Ali Imran :77);


الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ 
وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang2 yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit , mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata dengan mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih”.

 

3. Program (visi) Mereka adalah Mengentaskan Kemiskinan
 

Teladan ini dapat kita petik dari pernyataan Abu Bakar yang mengatakan:

الْضََّعِيْفُ فِيْكُمْ قَوِيٌ عِنْدِى حَتَّى آخُذُ لَهُ حَقَّهُ
وَالْقَوِىُّ ضَعِيْفٌ عِنْدِىْ حَتَّى آخُذَ مِنْهُ الْحَقَّ إنْ شَاالله تَعَلَى

“Orang lemah di antara kalian saya pandang sebagai orang kuat dan akan berikan haknya(yang belum di dapatnya) dan orang kuat di antara kalian saya pandang sebagai orang lemah dan akan saya ambil “hak” dari mereka (untuk diserahkan kepada yang sebenarnya berhak), Insya Allah”.

Ungkapan beliau ini tentu berkaitan dengan kisah berikut ketika ia masih bersama Rasulullah, yaitu ketika salah seorang sahabat bertanya:

Wahai Rasulullah, apa sajakah dosa-dosa besar itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah.” Ia bertanya “Kemudian apa?” “Sumpah palsu.” Saya bertanya, “Apakah sumpah palsu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang merampas harta seorang Muslim, yakni dengan menggunakan sumpah yang mengandung kebohongan.” (HR Bukhori dan Tarmudzi)

Ada seorang sahabat bertanya, “Walaupun yang dirampasnya itu hanya sedikit ya Rasulullah?” Beliau menjawab,”Walaupun hanya sekecil batang kayu arak(kayu yang biasa dipakai untuk siwak/menyikat gigi)” (HR Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah

 

4. Mengajak Menjaga Keutuhan Negara.
 

Teladan ini dapat kita petik dari pernyataan Abu Bakar yang mengatakan:

لايَدَعُ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْجِهَادَ فَاِنَّهُ لا يَدَعُهُ إلاّ ضَرَبَ الله ُبِالذُّلِّ

Jangan seorangpun diantara kita meninggalkan jihad (perjuangan) karena tidak ada kelompok yang meninggalkan jihad kecuali mereka akan tertimpa kehinaan dari Allah.
Allah berfirman dalam QS Ash Shafft :10
“Hai orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu”.

Sidang jum’at yang berbahagia,
Para ulama menafsirkan jihad itu tidak harus memanggul senjata untuk mengusir musuh, tetapi dengan memanfaat harta benda atau kemampuan lainpun kita sebut jihad. Tujuan utamnya adalah menegakkan kalimat Allah. Ini berdasarkan sabda Rasullah saw;
“Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi mulia, maka dia itulah yang berjuang/berperang di jalan Allah”. (HR Bukhari)

 

5. Menganjurkan untuk  Patuh terhadap Pemerintah.

Teladan ini dapat kita petik dari pernyataan Abu Bakar yang mengatakan:

أطِيْعُونِيْ مَاأطَعْتُ اللهَ وَرَسُولَهُ,فَإذَاعَصَيْتُ الله َوَرَسُولَهُ فَلاَ طاعَةَ لِي

“Taatilah saya, selama selama saya taat kepada Allah dan Rasulnya. Kalau saya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat kepada saya”.

Kemungkinan inilah yang menjadi pegangan oleh para ulama bahwa taat kepada ulil Amri itu bersifat relative.

 

6. Menganjurkan untuk Melaksanakan Perintah Agama.

Teladan ini dapat kita petik dari pernyataan Abu Bakar yang mengatakan:

عَلَيْكُم قُومُوا إلَى صَلاَتِكُمْ رَحِكُمُ اللهِ
bergegaslah melakukan sholat semoga Allah senantiasa merahmati kalian”.
Mengapa beliau memrintahkan segera melakukan sholat. Karena ibadah sholat merupakan pembeda yang jelas antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman (orang kafir missal). Dan sholat mengandung aspek yang luar biasa dalam kehidupan; seperti, kesabaran, kedisiplinan, dlsb.

Sidang jum’at yang berbahagia,
Demikianlah pelajaran yang dapat kita ambil dari pidato pilitik Pemimpin Islam yang Allah telah menjamin dia untuk masuk syurga. Semoga bermanfaat bagi diri saya dan jamaah sekalian.


.باَرَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ
وَ نَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِالاَيَاتِ وَالذِّكْرِِ الْحَكِيْمِ
وَ قُلْ رَبِغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Daftar Pustaka:
1. AlQuran Karim
2. Solusi Problematika actual Hukum Islam, Keputusan Muktamar 

         Nahdlatul Ulama (1926-2004), Lajnah Ta’lif 
         wan Nasyr (LTN) NU, Jawa Timur,Surabaya,2007
3. Ahmad Al Adawiy,M,. 1996. Pedoman Juru Dakwah, 

         Pustaka Amani, Jakarta
_____________________________________
Telah disampaikan Penulis pada tanggal 3 April 2009 di Masjid Baitul Hidayah, Tjk Barat, Bandar Lampung


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar