Selasa, 30 November 2010

Kajian Filosofis Nasehat Seorang Ibu Kepada Anaknya: "Hidup adalah Perjalanan"

oleh
Budi Wibowo
بسمالله الرّحمن الرّحيم

Perkenankan tulisan ini saya awali dengan menyunting firman Allah SWT;

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا
صَدَّقَ اللهُ الْعَظِيْمَ وصَدَّقَ رَسُوْلُ اللهِ الْكَرِيْمَ
“Berpeganglah pada tali Allah semuanya!”
Maha benar Allah dengan segala firmanNya dan telah benar pula RasulNya yang Mulia.
***


Dahulu, Ibu saya pernah memberi nasehat kepada putra-putrinya sebagai bekal dalam mengarungi hidup ini dengan kalimat singkat tetapi mengandung makna yang dalam kalimat tersebut dalam bahasa Jawa berbunyi demikian "Lee mrenea tak kandani : Urip iku sejatine mung lakon, wisto lakonono". (“Kemarilah anakku saya beri tahu bahwa hidup ini sebenarnya adalah perjalanan, maka jalanilah”.)

Mari kita renungkan sejenak, benarkah hidup ini adalah sebuah perjalanan?

Ketika kita lahir ke bumi kemudian menginjak remaja menjadi orang dewasa kemudian kembali kita mati, ternyata benar bahwa seiring dengan perputaran waktu kita tempuh kehidupan ini hingga saat tertentu, selesailah hidup di dunia ini.

Selesaikah sampai di dunia ini saja perjalan hidup ini ? Ternyata tidak, karena ada beberapa pertanyaan yang belum terselesaikan, yaitu:

1. Kemana arah yang harus kita tuju dalam kehidupan ini?.
2. Kendaraan apa yang dapat kita gunakan untuk mencapai tujuan itu.?
3. Sudah benarkah jalan yang kita tempuh ini?

Sebenarnya perjalanan ini memiliki dua terminal yaitu pertama adalah terminal pemberangkatan dan kedua adalah terminal pemberhentian.

Kapan kita mulai berangkat, yaitu ketika kita telah memasuki akil balig, di mana pada saat itu amal perbuatan mulai dicatat atau direkam sebagai amalan yang benar atau sabagai amalan yang salah, Allah berfirman dalam surat Yasin ayat 12;

اِنَا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوتىَ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَاَثَارَهُمْ
وَكُلَّ شَىءٍ اَحْصَيْنَهُ فِىْ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatat amal yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dan segala sesuatu akan Kami perhitungkan dalam bukti yang nyata.

Pena pencatat itu terus menulis amal perbuatan kita, tak hendak diangkat-angkat kecuali ketika kita masih anak-anak, ketika kita sedang tidur, dan ketika kita menjadi orang tua yang sudah hilang ingatan

***

Hidup ini adalah perjalanan dan ternyata perjalanan kita itu menghasilkan jejak atau bekas-bekas. Bekas-bekas itu tidak akan hilang dan bekas-bekas itu menunjukkan ke mana arah yang telah kita tuju. Oleh karena itu kita harus tahu jalan mana yang hendak kita tempuh, semua ini bergantung pada niatan/motivasi kita, mau kemana ayunan kaki ini kita arahkan 'tuk membawa badan yang di dalamnya kita bersembunyi dalam perjalanan ini.

Ada dua arah yang dapat kita tuju, seperti telah dijelaskan oleh Nabi kita s.a.w, dalam sabdanya:

اِنَّمَا الأَعْمَالُ بِا لنِّيَّاتِ وَاِنَّماَ لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ
و َمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى الدُّنْيَا يُصِيْبُهَا
اَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَاجَرَاِلَيْهِ

Semua amal itu tergantung niatnya, dan apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrah itu (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menggambarkan motivasi seseorang dalam menentukan amal perbuatan. Tergantung apa yang melatarbelakangi manusia dalam bertindak, apakah ia ingin memperoleh kenikmatan dunia saja atau ingin mendapatkan kenikmatan di akhirat nanti. Kenikmatan di akhirat digambarkan dengan pertemuan dengan Allah dan rasul-Nya.

Perlu diketahui bahwa pertemuan dengan Allah dan rasul-Nya adalah pertemuan di surga yang dijanjikan, adalah hidup dalam lindungan Allah, berdampingan dengan orang-orang yang telah mendapat ni'matNya, berkumpul di tengah para Nabi, orang-orang yang menegakkan kebenaran (Ulama), orang-orang yang mati membela agama dan orang-orang yang telah melakukan amal kebajikan sesuai dengan tuntunan-Nya. Allah telah berfirman dalam Surat Annisa ayat 69:



وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ والرَّسُوْلَ فَاُولَءِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ
مِّنَ النَّبِيِّنَ والصِّدِّيْقِيْنِ و الشُهَدَاءِ وَالصَّلِحِيْنَ
وَحَسُنَ اُوْلَءِكَ رَفِيْقَا

Dan barang siapa menaati Allah dan rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Para Nabi, para siddiqin,orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

***
Hidup ini adalah perjalanan, bergantung pada tujuan yang hendak dituju maka orang yang telah menentukan tujuan untuk mencapai pertemuan dengan Allah dan rasul-Nya segala gerak dan langkahnya tetap tertuju ke sana. Pencapaian tujuan itu memerlukan kendaraan yang berupa, keguhan (istiqomah), kesabaran, kepasrahan (tawakal) dan pengorbanan (jihad).

Sama sebenarnya bagi mereka yang telah menentukan tujuan selain di jalan Allah dan rasul-Nya. Kita tahu orang begitu giat bekerja siang malam mencari harta sengaja ia tinggalkan sholat, ia tinggalkan perintah dan anjuran. Kita lihat orang begitu sabar dan pasrah melaksanakan perjudian bahkan mereka tidak merasa menyesal sama sekali ketika yang mereka harap dari perjudian itu gagal. Memang ada kelompok manusia yang mau berkorban dengan mengambil jalan hidup demikian. Kalau boleh saya katakan maka orang demikian ini adalah istiqomahnya, kesabarannya, jihadnya dan tawakalnya hanya ditujukan untuk mengabdi kepada Syeitan.

***

Hidup ini adalah perjalanan. Ketika kita telah menentukan tujuan yang benar tidak jarang kita temui berbagai rintangan yang harus kita lewati. Pesan orang tua kita “Jalanilah !” (Lakonono !). Artinya kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kita. Karena memang demikian hidup ini. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak mendapat ujian dari Tuhannya. Ia menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba tersebut. Tidaklah seseorang dikatakan beriman sebelum Ia mengujinya.


لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً اِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqoroh:[2] ;286)

Dan Ia berfirman sebagaimana termaktub dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3


اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يًّتْرَكُوا اَنْ يَّقُوْلُوْ اَمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلْيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَّقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَذِبِيْنَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman",sedang mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

***
Iman bukanlah kata-kata. Sebelum manusia diuji oleh Allah SWT. belumlah seseorang hamba dikatakan beriman. Maksudnya seorang hamba yang beriman adalah seorang hamba yang telah lulus dari ujian yang Allah berikan, sehingga timbullah keyakinan dalam hati kemudian diucapkan dengan lesan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Banyak sekali orang yang mengaku beriman tumbang di tengah perjalanan karena mereka tidak mampu membuktikan ucapan mereka. Mereka yang tak mampu membuktikan keimanannya bagaikan melakukan perdagangan yang rugi. Semula mereka memiliki barang yang berharga kemudian mereka tukar dengan barang dagangan yang lebih murah, mereka kurbankan keimanan demi meraup materi keduniaan sebanyak-banyaknya. Ini dapat kita lihat semakin menipisnya nilai-nilai Islam dalam lingkungan kita, bahkan pada tataran yang lebih luas yakni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Orang tua kita berpesan dengan kalimat bahasa Jawa "Wisto lakonono !", Dalam bahasa Indonesia "Jalanilah !", artinya ketika menghadapi ujian seberat apapun kerjakanlah dan tetaplah berpegang pada tuntunan Tuhan. Para da'i jaman dahulu menggambarkan dengan kalimat "lunyu-lunyu penekno", artinya sesulit apapun tetap perjuangkanlah. Demikianlah orang tua kita mengajarkan kepada anak-anaknya, karena mereka mengetahui bahwa Allah berfirman dalam surat Ath Thalaaq ayat 2 dan 3:


وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَحْرَجًا
وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka

Di ayat lain Dia berfirman:

فَاِنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al Insyirah [94 ]:5-6).

***
Hidup adalah perjalanan. Di depan kita banyak perintang, ternyata selain perintang yang harus kita atasi juga tersedia buah-buah rezeki yang melimpah, bergantung pada diri kita masing-masing dalam mendayagunakan kemampuan tenaga dan pikiran . Di tengah belantara kehidupan manusia itu ada seutas tali yang panjang, tali itu adalah penunjuk jalan agar manusia tidak tersesat menempuh perjalanan di tengah belantara kehidupan ini. Tali inilah yang kita sebut dengan Al-Quran dan As Sunnah. Tali itu adalah pegangan kita sewaktu berjalan menyusuri jalan datar , mendaki dan menuruni tebing di tengah belantara kehidupan. Kita dapat membayangkan tatkala seseorang berjalan pada jalan datar dan seseorang berjalan pada jalan bertebing. Tentu masing-masing terlihat berbeda lagak jalannya. Tidak sama antara mereka yang berpegang tali mendaki tebing dengan yang berpegang tali menapaki jalan datar.

Tali.. ? Ya seutas tali bukan tongkat kayu. Ternyata tali memberi makna transformasi yang berkesinambungan. Bukankah waktu terus berubah ? Bukankah ruang itu tidak sama? Bukankah perubahan zaman itu diiringi dengan perubahan sosial ?

Banyak manusia yang terlena dengan hiasan kehidupan dunia sehingga ada yang sengaja ia lepaskan tali itu dari genggamannya. Mereka raup buah-buah yang kelihatannya indah padahal terlarang. Di sisi lain ada orang yang tetap berpegang pada tali tersebut meskipun dia hanya mampu menjangkau sedikit saja buah rezeki di dunia ini.

Mereka yang melepaskan diri dari tali pegangan itu akan tersesat di tengah belantara kehidupan, mereka berjalan melingkar-lingkar tanpa tujuan, mereka itulah orang-orang kafir. Sedangkan mereka yang tetap berpegang teguh dengan tali tersebut terus menapaki dan sampailah ia pada penghujung tali. Itulah terminal terakhir yang ia tuju yaitu kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan di awal dan di tengah perjalanan. Allah berfirman:

بَلْ تُوءْثِرُوْنَ الْحَيَوْةَ الدُّنْيَا وَلاَ خِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى


Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhir itu lebih baik dan lebih kekal (QS, Al-A'laa [87 ]:16-17).

***
Jadi hidup adalah perjalanan. Betapapan berat ujian ini mari kita jalani, dengan keteguhan, sabar dan tawakal walaupun dengan pengorbanan. Kapan kita akan mati kita tidak tahu, padahal itu adalah suatu kepastian. Oleh karena itu saya berwasiat pertama kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian. Mari kita bulatkan tekat kita dalam setiap sendi kehidupan ini gerak dan langkah kita selalu mengait pada tali Allah.


.باَرَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ
وَ نَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِالاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَ قُلْ رَبِغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Daftar Pustaka:
- Al Qur’an Karim.
- Abdillah, M. 2003. Dialektika Hukum Islam dan Perubahan Sosial
(Sebuah Refleksi Sosiologis atas Pemikiran Ibn Qayyim al-Jauziyyah).
Muhammadiyah University Press. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
- Zainuddin, Abi Abas. ___. Tajriidush Shariih li Ahaadiitsil Jaami’ush Shahiih.
Al ‘Alawiyyah. Semarang. Hal. 5.
____________________________________
Materi khutbah Jum’at di salah satu Masjid di Bandarlampung;
Disampaikan penulis tgl 17-02-2006.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar