Rabu, 12 Mei 2010

Hakekat Kaya dan Miskin

Budi Wibowo

اَلحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ الْقُرْاَنَ الْكَريْمَ فَقَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَاوَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْق
اَشْهَدُ اَنْ لاَ الَهَ الاَّ اللهُ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَ رَسُولِكَ وَعَلَى أَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ: أَمَّابَعْدُ
فَيَا اَيُّهَ الْحَضِرُوْنَ : اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ رَسُلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْياَ مَزْرَعَةُ الاخِرَةِ
صَدَّقَ اللهُ الْعَظِيْمَ وصَدَّقَ رَسُوْلُ اللهِ الْكَرِيْمَ

Sidang jum'at yang berbahagia,
Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah swt, yang telah malimpahkah rahmatnya dengan menciptakan Quran yang mulia dan memperingatkan hambanya dengan Firmanya "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan ia ingat kepada Tuhannya lalu dia mendirikan sholat, sedang kamu memilih kehidupan duniawai, sedang kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal"

Salam dan sholawat mari kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad s.a.w.

Sidang Jum'at yang berbahagia,
Tidak bosan-bosannya saya mengajak kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian mari kita tingkatkan ketaqwaan kita. Baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit.

Judul kutbah yang akan saya bawakan pada siang hari ini adalah tentang:

HAKEKAT KAYA DAN MISKIN

Sidang Jum'at Rohimakumullah,
Allah menciptakan makhluk-Nya dalam bentuk berbagai ragam baik makhluk itu berupa tumbuhan, hewan, maupun manusia. Kita lihat ada berapa banyak ragam tumbuhan baik mengenai ukuran, bentuk, warna maupun umurnya tak satupun manusia di dunia ini yang mampu menghitungnya begitu juga ragam hewan dan manusia. Dari setiap jenis hewan yang samapun ternyata dalam jenis tersebut terdapat keragaman begitu juga manusia anak turunan Adam tak satupun ada yang sama walaupun mereka saudara kembar tetap ada pembedanya, .hingga sekarang belum ditemukan sidik jari yang sama antara satu orang dengan orang lain meskipun ia saudara kembar.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa betapa besar kekuasaan Allah swt .
Ilustrasi ini sekedar mengingatkan kita bahwa Allah sengaja menciptkan keberagaman itu untuk meletakan timbangan keadilanNya, selain itu juga untuk memberikan keindahan dan manfaat lain.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Allah berfirman dalam Alqur'an:

Sekirannya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lpmbalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan kepadamu apa yang telah kamu perselihkan. (Q.s Al-Maidah 5 : 48).

Sidang jum'at yang berbahagia,
Demikian pula dalam perolehan rejeki setiap individu tidak sama, ada yang kaya ada pola yang miskin, rezeki pada dasarnya adalah perolehan yang kita peroleh untuk kelangsungan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat. Manusia sering menuntut keadilan dalam perolehan rezeki ini, atau dengan kata lain manusia sering mempertanyakan bagaimana keadilan Allah itu. Karena memang Allah telah menciptakan manusia dengan fitrah untuk cenderung menuntut keadilan.

Firman Allah dalam surat Al-Infitar 82:7, yang terjemah bebabasnya demikian : Allah SWT telah menciptakan manusia, menyempurnakan ciptaannya dan menjadikannya adil dalam arti seimbang dan cenderung kepada keadilan.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Bagi orang yang beriman harta yang kita miliki pada dasarnya adalah apa yang kita miliki di akhirat kelak, sedang apa yang kita peroleh di dunia ini bukan milik kita. Rasul bersabda:

فَاِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالَ وَارِثِهِ مَا اَخَّرَ
"Sesungguhnya harta (yang kita miliki) sendiri(secara pribadi) adalah sesuatu yang telah disedekahkan. Sedangkan harta milik ahli waris adalah sesuatu yang belum sempat disedekahkan" (HR. BUkhari)

Sidang jum'at yang berbahagia.
Kekayaan yang kita miliki di dunia ini dapat berupa kekayaan harta benda, ilmu pengetahuan maupun keterampilan. Manusia disyariatkan untuk memanfaatkan potensi-potensi tersebut sebaik-baiknya, Oleh karena itu Rasul bersabda:

الدُّنْياَ مَزْرَعَةُ الاخِرَةِ فَمَنْ زَرَعَ خَيْراً حَصَدَ غِبْطَةً
وَمَنْ زَرَعَ شَرًّا حَصَدَ نَداَمَةً
"Dunia adalah tempat bercocok tanam untuk kehidupan akhirat. Maka barang siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan memetik kebahagiaan. Dan barang siapa mananam keburukan, maka ia akan memetik penyesalan".

Oleh karena itu dalam kepemilikan harta benda khususnya, ada orang yang memiliki kekayaan yang semu dan ada orang yang memiliki kemiskinan yang semu pula. Artinya kesemuan itu tidak menunjukkan kaya atau miskin yang sebenarnya.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Orang kaya yang bakhil pada hakekatnya dia adalah orang yang miskin, karena ia tidak memiliki buah kenikmatan yang dapat ia peroleh di akherat kelak, sebaliknya orang miskin yang dermawan pada hakekatnya ia adalah orang yang kaya karena ia akan banyak meraup buah kenikmatan di akherat kelak.

Sidang jum'at yang berbahagia,

Kembali saya ingatkan dengan mengambil sabda Rasulullah, bahwa:

اَلْعَيْشُ عَيْشُ الاخِرَةِ

"Kehidupan sejati adalah kehidupan akhirat".

Oleh karena itu, bila dikaitan dengan harta, tolok ukur kesholehan seseorang dapat dilihat dari kedermawanannya. Tentu sifat kepemurahan ini tetap dalam rel yang tidak menyimpang dari tuntunan sariah. Rasul bersabda;

السَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى , قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ , قَرِيْبٌ مِنَ الجَنَّةِ بَعِدٌ مِنَ النَّارِ, وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى , بَعِيْدٌ مِنِ النَّاسِ , بَعِيْدٌ مِنَ الجَنَّةِ , قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ. وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ اِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابْدِ الْبَخِيْلِ


"Orang yang murah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang murah hati lebih dicintai Allah daripada seorang yang ahli ibadah yang bakhil". (HR AT-TURMUDZI).
.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Pernyataan rasul tadi menjawab pertanyaan manusia tentang keadilan Allah dan memberi keterangan kepada umat manusia siapa sebenarnya orang yang mendapat kebahagian di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan sekaligus menggambarkan siapa sebenarnya orang yang kehidupannya berada di tepi jurang neraka dan siapa sebanarnya orang yang kehidupannya mendekati syurga.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Mungkin sebagian manusia masih belum puas dengan statemen tersebut. Ada yang berpandangan bahwa bagi mereka yang telah memiliki kecukupan "harta benda khususnya" tentu ia akan memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai kebahagiaan itu. Pertanyaan ini telah diantisipasi oleh Allah melalui Rasulnya, sbb;

"Dunia hanyalah untuk empat golongan manusia:
Pertama, seseorang yang diberi harta dan Ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian dia bertaqwa kepada Tuhannya, menyambung tali persaudaraan dan beramal baik dengannya karena mencari keridhlaan Allah, maka dia berada pada kedudukan yang paling utama.

Kedua, seseorang yang diberi pengetahuan oleh Allah tetapi tidak diberi harta kekayaan, sedangkan dia senantiasa lurus niatnya, seraya berkata:"Seandainya aku mempunyai harta kekayaan, niscaya aku akan beramal sebagaimana amal yang dilakukan si Fulan." Dengan ketulusan niatnya itu dia mendapat pahala yang sama dengan pahala yang diterima si Fulan (yang kaya dan sholeh tadi).

Ketiga,(gol ke III) seseorang yang diberi harta kekayaan oleh Allah tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Hingga dia menghabiskan hartanya tanpa ilmu, dan dia tidak bertakwa kepada Tuhannya, tidak menyambung tali persaudaraan dan tidak beramal sebagaimanan yang ditentukan Allah, maka dia berada pada kedudukan yang paling buruk.
Keempat, seseorang yang tidak diberi harta oleh Allah dan juga tidak diberi Ilmu pengetahuan, kemudian dia berkata :"Seandainya aku mempunyai harta , niscaya aku akan melakukan amal dengan hartaku sebagaimana amalan yang dilakukan spt Golongan ke III".
Dengan demikian dia mendapat timbangan dosa yang sama dengan Gol II.(golongan orang paling buruk)" (HR. TIRMIDZI DAN AHMAD).

Sidang jum'at yang berbahagia,
Adanya seorang hamba diberi oleh Allah tentu ada sebab dan adanya seorang hamba yang tidak diberi oleh Allah juga karena sebab. Adanya suatu pengabulan tentu didahului oleh pengabulan dari suatu permintaan. Banyak perolehan yang dapat dicapai seorang hamba tergantung dari kepandai hamba itu dalam menangkap sinyal-sinyal hidayah. Jadi hidayah harus dikejar, tidak mungkin Allah akan memberikan petunjuk dalam menyelasaikan sebuah persoalan jika seorang hamba itu hanya duduk termenung di dalam masjid tanpa memperdulikan kemaslahatan dunia. Demikian juga tidak mungkin seorang hamba akan mendapat kebahagiaan di akherat jika ia mengabaikan perintah-perintah yang syariatkan Allah.
Allah berfirman dalam Alqur'an (QS Qasshas:28:77)

"Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
.

Sidang jum'at yang berbahagia,
Kini telah jelas bahwa Allah menciptakan manusia itu dalam bentuk yang berbeda selain untuk menciptakan keindahan Allah juga bertujuan untuk meletakkan keadilan-Nya dihadapan makhluk-Nya.

Tidak ada jaminan kepastian bahwa orang yang kaya itu memiliki amal yang lebih sempurna dibandingkan yang miskin dengan alasan bahwa si Kaya lebih mudah bederma disbanding si miskin. Bobot kedermawanan seseorang dapat dilihat dari tingkat keikhlasan dan kadar nilai dari harta tersebut berdasarkan ukuran kebutuhan yang dimiliki oleh si penderma.
Bila seseorang menyedekahkan hartanya sementara ia membutuhkan tetapi ia sadar bahwa orang lain lebih membutuhkan, dengan ikhlas ia berikan kepada orang lain, maka inilah orang yang memiliki kesholehan yang sempurna. Allah berfirman dalam QS Ali Imran : 3:92:
..
"Kamu sekali-kali belum sampai kepada kebaikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

Sidang jum'at yang berbahagia,
Sebagai khotib saya berwasiat, terutama kepada diri saya dan mengajak kepada jamaah sekalian. Mari kita warnai hidup ini dengan penuh sedekah atau berderrma dengan tujuan semoga kita dicatat oleh Allah sebagai salah seorang hambanya yang dermawan.
Kita dermakan sebagian rejeki kita untuk kemaslahatan bersama. Yang lebih penting adalah perolehahan rejeki yang kita dapat adalah rejeki dari hasil keringat kita dengan jalan yang benar. Bukan rejeki yang kita peroleh dengan jalan haram. Karena harta yang haram tidak membuahkan hasil apa-apa di akherat kelak, atau dengan kata lain Allah menolak sedekah dari rejeki yang haram: seperti sabda Rasulullah s.a.w.:


وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ اِلاَّ الطَّيِّبَ 

"Dan Allah tidak akan pernah menerima kecuali yang baik (halal), (HR. Bukhori dan Muslim).

.باَرَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ
وَ نَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِالاَيَاتِ وَالذِّكْرِِ الْحَكِيْمِ
وَ قُلْ رَبِغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
 
 ____________________________
Telah disampaikan:5 Mei 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar